RSS

Muda dan Berprestasi

 
JAKARTA - Di usia 36 tahun, Agung Endro Nugroho dipercaya menjadi seorang Guru Besar (gubes) Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Farmasi UGM itu dinobatkan sebagai gubes termuda di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka Tanah Air itu.

Pencapaian menjadi seorang gubes diraih Agung dengan mencetak segudang prestasi. Meski demikian, pria kelahiran Surakarta, 15 Januari 1976 itu merasa biasa saja dengan predikat gubes yang disandangnya di usia yang belum mencapai kepala empat.

Dia menyebutkan, setiap dosen memiliki obsesi sama untuk jabatan akademik tertinggi seperti gubes. Agung percaya, dengan menjalankan Tridarma perguruan tinggi sesuai dengan jalurnya, maka kesempatan bagi seorang dosen untuk meraih jabatan sebagai gubes akan semakin besar.

“Cuma masalahnya bisa cepat atau lambat. Untungnya saya concern di tiga bidang dan saya kerjakan dengan ekstra, terutama untuk penelitian yang saya perbanyak. Demikian juga publikasi dan seminar-seminar internasional. Semakin banyak capaian yang kita dapatkan, waktu pencapaian jabatan Guru Besar tentu semakin cepat,” ujar Agung, seperti dikutip dari laman UGM, Jumat (21/12/2012).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak Pintar di Sekolah "Gurem"

SNMPTN 2013 di awal kemunculannya telah disambut banyak pihak dengan respons yang berbeda-beda. Ada yang berbahagia karena sistem pendaftaranya yang gratis, ada juga yang bahagia karena tidak perlu repot-repot mengikuti SNMPTN jalur tulis yang memiliki bobot soal di atas rata-rata. Kebahagiaan ini kebanyakan dimiliki oleh para siswa di sekolah “top” di kawasan perkotaan. Pasalnya, sistem acuan utama menggunakan nilai rapor dalam pembobotan penerimaan dari PTN yang bersangkutan ternyata telah memiliki konversi-konversi tertentu untuk sekolah-sekolah yang dianggap memiliki tingkat prestise tinggi.

Melirik pada hasil penyeleksian jalur undangan SNMPTN 2012 yang tak jauh beda dengan sistem SNMPTN 2013 secara keseluruhan, sekolah-sekolah yang dianggap terpandang di kota-kota memiliki peluang sangat besar untuk lolos. PTN akan lebih memprioritaskan siswa-siswi yang berasal dari SMA terpandang daripada SMA “gurem”. Hal ini didasarkan pada kualitas dan cara pembobotan nilai rapor di setiap SMA yang berbeda-beda. Lalu, apakah dengan tingkat prestise SMA menjamin bahwa seluruh siswa yang bersekolah di SMA tersebut 100% lebih pintar dari siswa di sekolah lain? Bagaimana nasib SMA yang cukup bagus di kota-kota kecil, atau bahkan SMA kecil di pelosok kota?

Pada SNMPTN jalur undangan 2012, SMA “gurem” memiliki proporsi yang jauh lebih sedikit. Bahkan, dalam satu PTN hanya diterima satu siswa. Padahal, secara nyata siswa dari SMA “gurem” tersebut tidak selalu lebih tidak pintar dari siswa elite. Bisa jadi malah siswa SMA gurem tadi jauh lebih pintar dari siswa-siswi dari SMA terpandang yang dengan mulus lolos lewat jalur undangan. Tentu hal ini akan menjadi ketimpangan. Secara tidak langsung terjadi pergeseran yang memperkecil peluang siswa-siswi dari SMA “gurem” tersebut masuk PTN.

Selain itu, jalur SNMPTN yang dianggap sebagai jalur murah untuk kalangan menengah ke bawah agar dapat mengenyam pendidikan di tingkat perguruan tinggi negeri kini semakin sempit. Realita ini diperparah dengan dihapusnya sistem SNMPTN tulis yang memungkinkan seluruh siswa beradu secara bebas dan lebih adil mengenai modal kemampuan yang dia miliki untuk masuk di sebuah PTN.

Saat ini, yang tersisa untuk jalur ujian tulis adalah jalur seleksi mandiri yang diadakan secara bersama-sama oleh beberapa PTN maupun secara individu oleh masing-masing PTN. Namun, perlu dicermati bahwa subsidi pemerintah untuk biaya kuliah di PTN yang sangat murah lebih terfokus pada jalur SNMPTN yang saat ini hanya terdapat jalur undangan. Sedangkan jalur masuk lain yang bersifat mandiri secara nyata memiliki biaya masuk yang melambung tinggi, bahkan bisa lima kali lebih mahal dari biaya kuliah lewat jalur SNMPTN. Lagi dan lagi, bagaimana dengan nasib siswa-siswi di SMA “gurem” yang mungkin lebih pintar dan layak masuk perguruan tinggi negeri?

Haruskah mereka terlempar dari jalur undangan dan beralih pada jalur mandiri yang notabenenya memiliki biaya masuk yang lebih mahal? Seyogiyanya fakta-fakta demikian dicermati sebagai upaya pemerataan peluang siswa-siswi di Indonesia untuk dapat menikmati kuliah di perguruan tinggi negeri dengan biaya terjangkau.


Nanda Najih Habibil Afif
Mahasiswa Teknik Geologi
niversitas Padjadjaran
(//rfa)
Sumber

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Buah Simalaka pada SNMPTN 2013

UU Nomor 34 tahun 2010 yang menyatakan bahwa penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) melalui dua skema yaitu SNMPTN undangan dan mandiri akan benar-benar dilaksanakan pada tahun 2013 nanti. Itu artinya SNMPTN tulis yang selama ini dijadikan salah satu jalur untuk menjaring mahasiswa baru telah benar-benar dihapuskan. Jalur SNMPTN undangan ini berdasarkan nilai rapor selama tiga semester yakni semester tiga, empat, dan lima sesuai jurusan di SMA dan mengikutsertakan nilai ujian nasional (UN).
Kabar SNMPTN tahun 2013 yang disebut-sebut akan gratis pun mendapat respons positif karena kita tidak perlu dipusingkan lagi membayar uang pendaftaran seperti biasanya. Pemerintahlah yang membayar semua biaya pendaftaran tersebut. Ini terlihat lebih efesiensi dalam hal biaya dan prosesnya karena sekolah yang akan merekap semua nilai dan siswa hanya tinggal menunggu pengumuman setelah pelaksanaan UN. Namun bukan di sini permasalahannya, ada hal yang lebih menjadi kontroversi dan memicu banyaknya ketidakadilan.

Pertama, dengan pemakaian nilai rapor dan UN dikhawatirkan mendorong guru-guru memberikan nilai yang tinggi agar muridnya banyak yang bisa masuk PTN. Di sinilah akan marak terjadi kecurangan sampai bocornya soal UN. Inilah potret pendidikan di Indonesia.

Kedua, SNMPTN undangan yang kuotanya minimal 60% hanya berpelunag besar bagi mereka yang bersekolah di pusat kota. Mereka yang sekolahnya sudah memenuhi standar-standar tertentu sampai pada taraf  internasional akan lebih mudah lolos PTN karena prestise yang lebih tinggi. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada di pelosok-pelosok daerah? Belum tentu mereka yang berada di pusat kota semua lebih pintar dari mereka yang berada di daerah.

Ketiga, bagaimana mereka yang tidak lolos pada SNMPTN undangan tersebut? Memang masih ada jalur mandiri, tapi untuk mereka yang ekonominya menengah ke bawah akan kesulitan dalam masalah biaya. Pasalnya, seperti yang sudah kita ketahui, masuk PTN, sekali pun melalui jalur mandiri, mengharuskan kita mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Lagi-lagi, bagaimana nasib mereka yang berekonomi lemah? Bukankah pendidikan tidak saja bagi mereka yang mempunyai uang, tapi pendidikan layak dinikmati oleh semua orang, oleh semua kalangan.

Keempat, dengan hanya ada SNMPTN undangan, sudah pasti siswa lulusan tahun kemarin yang masih menggantungkan harapannya pada PTN idaman tidak dapat mengikuti SNMPTN pada tahun ini. Ambil contoh Institut Teknologi Bandung  (ITB) yang tidak lagi menyertakan ujian mandiri oleh ITB sendiri. Tahun lalu ITB menempatkan kuota 60% pada SNMPTN undangan dan 40 % mahasiswa baru diterima melalui jalur ujian tulis. Kemungkinan, tahun 2013 ITB akan 100% menerima mahasiswa baru lewat SNMPTN undangan.

Kiranya pemerintah juga sudah mempertimbangkan kebijakan ini. Penulis harap pemerintah benar-benar adil kepada mereka yang layak mengenyam pendidikan, benar-benar adil terhadap proses-proses penyeleksian dan semoga kebijakan ini mampu memperbaiki potret pendidikan di Indonesia.

Wulan Sri Mulyaningsih
Mahasiswi Program Studi PPKN
Universitas Negeri Jakarta
(//rfa)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Let's Go to South Korea

JAKARTA - Demam K-Pop tengah melanda berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Jangan sekadar mengagumi para aktris dan penyanyinya saja, kini kesempatan Anda untuk mengunjungi negara tersebut secara gratis pun semakin besar. Bahkan, kita pun mendapatkan ilmu tentang budaya dan bahasa Negeri Ginseng itu. Bagaimana caranya?
Pusat kebudayaan Korea di Indonesia menawarkan beasiswa program bahasa dan budaya Korea di Pusat Bahasa Universitas Geumgang, Korea Selatan. Program ini berlangsung selama 15 minggu. Dimulai pada Maret 2013 hingga 14 Juni 2013.

Para calon penerima beasiswa akan diseleksi melalui dua tahap. Seleksi tahap pertama dilakukan oleh Korean Cultural Center Indonesia. Jika lolos, calon penerima beasiswa akan mendapat surat referensi dari Direktur Korean Cultural Center Indonesia. Selanjutnya, seleksi tahap dua akan dilakukan oleh Geumgang University.
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Calon Mahasiswa dan Prodi di SNMPTN 2013

JAKARTA - Seleksi peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah dimulai. Jalur masuk perguruan tinggi negeri pada 2013 ini, memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, sama siswa tetap diperbolehkan memilih dua program pendidikan.

"Setiap siswa pelamar dapat memilih sebanyak-banyaknya 2 (dua) PTN yang diminati," jelas Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2013 Prof. Akhmaloka, Ph.D, dalam penjelasannya di Jakarta, Kamis (27/12/2012).

Dia yang juga rektor ITB menjelaskan, apabila memilih satu PTN, maka PTN yang dipilih dapat berada di provinsi mana pun. Apabila memilih lebih dari satu PTN, maka salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan SMA asalnya, atau dari provinsi terdekat bila belum terdapat PTN pada provinsi asalnya.

"Siswa pelamar dapat memilih sebanyak-banyaknya dua program studi yang diminati pada masing-masing PTN. Urutan pilihan PTN dan program studi menyatakan prioritas pilihan," dia menjelaskan.

Daftar program studi dan daya tampung SNMPTN tahun 2013 dapat dilihat pada laman http://www.snmptn.ac.id selama periode pendaftaran. "Siswa pelamar tidak dikenai biaya pendaftaran," pungkas dia.(rhs)
Sumber 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Silabus di Tahun 2013

JAKARTA - Penerapan kurikulum yang baru nanti tidak akan mewajibkan para tenaga pendidik untuk membuat silabus atau rencana pembelajaran. Tidak seperti di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka untuk di kurikulum baru nanti maka para guru tidak lagi dituntut untuk membuat rencana pembelajaran yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.

Mendikbud Mohammad Nuh menjelaskan, saat ini pemerintah yang akan menarik kewenangan membuat silabus itu ke pemerintah pusat. Kebijakan ini diperlukan karena kualitas guru belum mampu untuk membuat silabus tersebut. Mendikbud menjelaskan, dalam pedoman kurikulum baru nanti pemerintah akan menentukan dulu kompetensi yang akan dibuat, lalu dari situ ditentukan struktur kurikulumnya. "Kita tentukan dulu mau mencetak apa. Jangan gara-gara sudah ada bahan tepung, gula dan mentega tetapi kita tak tahu mau buat bakpao atau roti," kata Nuh di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, sebagai tugas pengganti silabus, maka guru nantinya hanya akan memperkaya materi pembelajaran dan penilaian yang kesemuanya akan dituntun oleh buku panduan guru dan siswa. Dia berprinsip, guru tidak perlu membuat silabus lagi karena pada kenyataannya banyak materi ajar yang belum perlu diajarkan pada siswa. Seperti, contohnya, untuk apa siswa kelas satu dan dua mengetahui manfaat KTP atau kelas tiga dan empat tahu prosedur pemilihan umum.

Rentetan permasalahan tidak hanya terjadi pada salahnya materi ajar namun beban siswa SD pun makin berat ketika mau masuk sekolah harus dipaksa mengikuti tes Baca Tulis Hitung (Calistung) yang sebetulnya tidak diperlukan dan diperbolehkan oleh undang-undang. "Kenapa banyak penjual buku menawarkan bukunya? Karena guru menyusun silabus dari berbagai buku dan mempunyai keterbatasan untuk menyusunnya. Ini yang mau kami rombak," ujar Nuh.(Neneng Zubaidah/Koran SI/rfa)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dari Lahir sampai dengan Kiamatnya Semesta


KOMPAS.com — Tak ada satu pun yang tahu dengan pasti sejarah semesta, bagaimana proses kelahiran serta kematiannya nanti. Meski demikian, astronom telah melakukan sekian penelitian untuk mencoba mendeskripsikan.

Dengan pengetahuan yang telah dimiliki saat ini, astronom mengungkapkan bahwa semesta lahir dari peristiwa yang disebut "Big Bang" atau Dentuman Besar, 13,7 miliar tahun lalu. Sementara itu, semesta bisa berakhir lewat "Big Freeze", "Big Rip", "Big Crunch", ataupun "Big Bounce".

Berikut rangkuman kisah semesta yang disusun oleh para ilmuwan. Tentu saja, ini bukan hal yang pasti akan terjadi. Hingga kini, penelitian terus dilakukan untuk mengonfirmasi apa yang terjadi di masa lalu dan yang akan terjadi di masa depan.

Tahap I: Big Bang

Peristiwa kelahiran semesta dimulai dari Big Bang, berlangsung 13,7 miliar tahun lalu. Pada masa awalnya semesta sangat panas dan padat. Partikel subatomik seperti elektron tercipta dan hancur sepanjang waktu. Semesta tersusun atas sebagian besar foton atau partikel cahaya.

Dengan semua yang terjadi, semesta masa lalu tampak buram. Cahaya tak bisa bergerak jauh. Semesta saat itu juga tidak seragam, ada fluktuasi dalam densitas dan suhu.

Tahap II: Pengembangan

Pada waktu 10(-35) detik setelah Big Bang terjadi pengembangan semesta secara besar-besaran. Tingkat pengembangan semesta mencapai 10(60) kali dalam waktu yang sangat singkat itu. Semesta juga menjadi lebih halus.

Analoginya, semesta semula seperti bola golf yang kasar. Setelah mengembang, semesta menjadi seukuran Bumi dan lebih halus.

Tahap III: 3 Menit Setelah Big Bang

Tiga menit setelah Big Bang, semesta masih sangat panas, mencapai miliaran derajat celsius. Materi yang menyusun semesta saat itu adalah 3/4 hidrogen dan 1/4 helium. Hingga kini, proporsi unsur tersebut di semesta juga masih sama.

Semesta masih buram saat ini, masih tersusun atas foton. Selama ratusan ribu tahun sesudahnya, semesta tetap dalam kondisi sama. Perlahan, wilayah yang lebih padat di semesta akan menarik materi dari wilayah yang kurang padat. Semesta tidak seragam.

Tahap IV: "Cosmic Background Radiation"

Pada 400.000 tahun setelah Big Bang, suhu semesta sekitar 3.000 Kelvin. Pada suhu tersebut, atom sudah mungkin terbentuk dari elektron, proton, dan neutron. Cahaya bebas bergerak, dilihat sebagai Cosmic Background Radiation (CMB). Semesta menjadi transparan.

Saat itu, wilayah semesta tak seragam secara suhu. Ada wilayah yang lebih panas dan sebaliknya. Jika dibuat suatu peta di mana suhu panas dilambangkan dengan warna merah, akan ada titik-titik merah di peta tersebut.

Tahap V: Masa Kegelapan

Masa ini berlangsung 400.000-400.000.000 tahun setelah Big Bang. Saat itu, semesta banyak tersusun atas gas netral. Ada wilayah yang lebih padat dengan gaya gravitasi lebih tinggi. Gravitasi lebih tinggi berarti memiliki materi lebih banyak.

Karena memiliki densitas lebih tinggi, suhunya juga lebih panas. Meski demikian, bintang belum bisa terbentuk. Semesta bisa dikatakan gelap.

Tahap VI: Bintang Pertama

Wilayah yang punya densitas lebih tinggi akan makin panas. Saking panasnya, akhirnya bisa membakar hidrogen. Demikianlah akhirnya bintang pertama terbentuk. Bintang saat itu tergolong sangat terang.

Saat bintang meledak menjadi supernova, unsur-unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium tercipta. Ledakan akan mengionisasi gas netral. Hidrogen pun terionisasi. Masa ini disebut reionisasi semesta.

Tahap VIII: Galaksi Pertama

Seiring waktu, zona yang punya densitas tinggi makin membesar. Bintang-bintang mengelompok membentuk galaksi. Peristiwa ini terjadi sekitar 1 miliar tahun setelah Big Bang.

Tahap IX: Evolusi Galaksi

Galaksi mengalami evolusi, saling bertumbukan, bergabung hingga membentuk galaksi baru yang lebih besar. Selain itu, galaksi juga membentuk suatu kesatuan menjadi kluster galaksi.

Salah satu teori mengatakan, semesta terus mengembang. Galaksi menjadi lebih jauh satu sama lain dan kemungkinan tumbukan lebih kecil. Semesta yang terus mengembang membuat para astrofisikawan berpikir tentang eksistensi Energi Gelap yang menyusun 3/4 semesta.

Tahap X: Tata Surya

Tata Surya terbentuk 9 miliar tahun setelah Big Bang, dimulai dengan terbentuknya Matahari. Bumi terbentuk kemudian. Beberapa miliar tahun lagi, makhluk hidup tercipta di Bumi. Manusia yang juga akhirnya tercipta mulai bertanya-tanya tentang asal-usul semesta.

Tahap XI: Masa Depan

Masa depan tentu belum pasti. Akan tetapi, astronom telah memiliki beberapa skenario. Sekitar 11.000 tahun lagi, spesies manusia diprediksi punah. 5 miliar tahun lagi, Matahari mulai menua, menjadi bintang raksasa merah sehingga Bumi panas dan makhluk hidup di Bumi musnah.

Bumi sendiri akan hancur dilahap Matahari sekitar 7,5 miliar tahun dari sekarang. Sementara itu, Matahari akan mati kemudian. Bintang terakhir akan berhenti bersinar 100 triliun kemudian. Akhirnya, segalanya akan terjadi dalam waktu 10(100) tahun dari saat ini setelah lubang hitam menguap. Semesta akan berakhir lewat beberapa skenario, Big Freeze, Bg Rip, Big Crunch, atau Big Bounce.

Planck Mission
Editor :
yunan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS